14 September 2021 | by Stella

Meningkatkan Keterampilan Guru SMK Pariwisata Sumba

Program Guru Magang oleh DESMA Center di Bali

Kuta, 2 Agustus 2021 - Pulau Sumba memiliki sumber daya alam yang potensial untuk menarik wisatawan. Untuk menyempurnakan potensi wisata, pemerintah daerah terus berupaya mengembangkan sumber daya manusia demi mendorong pariwisata yang berkelanjutan. Untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan, melalui dukungan William & Lily Foundation (WLF) dan Adaro Foundation, lembaga yang berfokus pada pengembangan pariwisata berkelanjutan, DESMA Center, memfasilitasi para guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang Pariwisata Sumba Barat Daya (SBD) dengan program magang di Bali. Program guru magang yang dilaksanakan selama bulan Juli 2021 ini merupakan bagian dari upaya kolaborasi ketiga lembaga melalui Program Penguatan Ekosistem SMK Pariwisata di Kabupaten SBD. Program Magang Guru secara resmi ditutup melalui kegiatan lokakarya dan diseminasi yang digelar secara langsung pada Senin, 2 Agustus 2021 di Kota Denpasar dan dapat disaksikan online melalui zoom meeting. 

 

Para guru yang mewakili SMKS Pancasila dan SMKN 2 Tambolaka berpartisipasi dalam Program Magang Guru untuk dapat memahami kebutuhan industri pariwisata dan mengembangkan keterampilan demi mempersiapkan lulusan SMK pariwisata yang potensial. Dengan mengikuti program magang ini, para guru sadar bahwa terdapat ketidaksesuaian antara keterampilan yang diajarkan kepada siswa SMK pariwisata dengan kebutuhan industri pariwisata yang sesungguhnya. Ketidaksesuaian ini dipersulit dengan keterbatasan fasilitas dan materi pembelajaran, terutama dalam mendukung pengembangan keterampilan praktik siswa.

Jumlah lulusan SMK pariwisata di SBD yang berminat melanjutkan ke jenjang pendidikan guru pun terbatas. Keterbatasan minat ini membuat sebagian besar guru SMK pariwisata tanpa latar belakang yang sesuai terpaksa mengambil peran dan belajar mandiri untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam industri pariwisata. Sebagai ujung tombak dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang potensial di industri pariwisata, para guru mengakui keterbatasan tersebut merupakan tantangan besar yang perlu segera ditindaklanjuti. Program guru magang menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan tersebut.

Selama satu bulan, guru SMKN 2 Tambolaka belajar mengembangkan kompetensi keahlian akomodasi perhotelan di Bali Dynasty Resort. Selain pemahaman nyata akan kompetensi SDM yang dibutuhkan, para guru juga meningkatkan pengetahuan tentang perkembangan industri pariwisata secara umum dan perhotelan secara khusus.

“Latar belakang kami bukan dari pariwisata. Pengetahuan teoritis kami yang kurang dan akses belajar yang kurang memadai menjadi tantangan besar bagi kami. Hal ini  membuat kami terpaksa belajar mandiri dari Youtube supaya kami punya gambaran kondisi nyata industri pariwisata, agar kami dapat memberikan pembelajaran yang lebih kontekstual bagi para siswa. Program Magang Guru ini memenuhi kebutuhan kami,” ungkap Susana Ivonita Dedo, S.Sos, guru SMKN 2 Tambolaka.

Peserta magang dari SMKN 2 Tambolaka merangkum beberapa kesenjangan antara kebutuhan industri pariwisata, khususnya perhotelan, dengan kondisi pembelajaran di sekolah mereka. Mulai dari sarana dan prasarana praktik di sekolah yang tidak memadai, minimnya bahan ajar yang digunakan guru, kurangnya pembahasan materi yang menggambarkan dunia industri pariwisata, hingga perbedaan standar yang digunakan sekolah. Sehingga, Ivon, begitu ia akrab disapa, mengakui bahwa program magang ini tepat sasaran. Menurutnya, guru memperoleh bekal untuk mengembangkan media pembelajaran.

Uniknya, guru SMKN 2 Tambolaka menemukan nilai-nilai penting yang perlu dibawa kembali ke sekolah dan diterapkan pada para siswa. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah kedisiplinan, hospitality, manajemen perhotelan, housekeeping, dan cara menyambut tamu yang selama ini sering disepelekan.

“Dari pengalaman magang, kami sadar ternyata selama ini kami lebih banyak terfokus pada teori. Padahal banyak nilai yang perlu diterapkan untuk bisa berkontribusi memajukan industri pariwisata. Cara berperilaku dan berbicara dengan ramah dalam menyambut tamu misalnya, ternyata penting untuk dilatih juga,” tambah Maria Evarista, S.Pd.

Maria menambahkan, beberapa praktik pelayanan perhotelan seperti room inspection dan room audit belum pernah dipelajari di sekolah. 

“Informasi terkait perkembangan yang ada di industri juga masih kurang bagi guru. Guru perlu akses lebih ke dunia industri seperti dengan program magang ini. Sehingga kami dapat mendorong siswa untuk lebih paham kondisi sesungguhnya untuk bisa berinovasi untuk belajar,” ungkap Maria.

Sementara itu, guru SMKS Pancasila melakukan magang di salah satu perusahaan penyedia layanan wisata, PT Melali Mice, untuk mempelajari usaha perjalanan wisata secara langsung. Dengan melakukan program magang di PT Melali Mice, salah satu guru SMKS Pancasila, Eny Felisitas Nahak, S.Par, Gr. memaparkan pengalamannya selama magang. Eny mengaku telah mendapatkan gambaran jelas industri pariwisata khususnya dalam pengembangan usaha perjalanan wisata.

“Selama program magang, kami belajar bahwa industri pariwisata harus adaptif dan terus berinovasi sesuai dengan perkembangan jaman. Sementara, kreativitas yang ternyata penting untuk terus berkembang seringkali diabaikan dalam pendidikan pariwisata,” tutur Eny.

Para guru SMKS Pancasila akan membawa pelajaran yang mereka dapat untuk mengembangkan bahan ajar di sekolah. Mulai dari diversifikasi usaha perjalanan wisata, hingga pengetahuan terkait wisata berkelanjutan dengan penerapan eco-culture untuk mengombinasikan nilai-nilai tradisi sekaligus menjaga kelestarian lokasi wisata dengan pengelolaan ramah lingkungan.

“Yang kami tahu selama ini, usaha perjalanan wisata hanya terfokus pada membawa para tamu jalan-jalan di lokasi. Tapi di sini kami belajar bahwa usaha perjalanan wisata dapat dikembangkan dengan turut mempromosikan nila-nilai budaya dan tradisi. Hal ini cocok untuk dikembangkan di Pulau Sumba, mengingat kami tidak hanya memiliki pemandangan yang indah tapi juga tradisi budaya yang bisa menjadi modal kuat dalam pengembangan wisata dan memberikan nilai lebih kepada para pendatang,” ungkap rekan Eny, Sania, S.Pd.

Sania menambahkan bahwa ada satu lagi nilai penting yang belum diperhatikan selama ini, yaitu fleksibilitas. “Industri wisata harus fleksibel dan terus berinovasi. Kita harus menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan industri wisata di dunia. Walaupun di masa sulit pandemi, kami belajar bahwa usaha wisata dapat terus berjalan dengan pemanfaatan media dan teknologi,” tuturnya.

Pengalaman magang ini menjadi  modal baru bagi para guru untuk mengembangkan bahan ajar dan mempersiapkan para siswa memasuki jenjang karir di dunia pariwisata. Para guru berharap agar pengalaman mereka dapat mendorong tindak lanjut dari sekolah dan berbagai pihak eksternal untuk melengkapi sarana, prasarana, dan bahan ajar sehingga dapat memenuhi standar pelayanan pendidikan yang sesuai dengan permintaan industri pariwisata.