19th Ave New York, NY 95822, USA

Cerita dari PAUD Santo Gabriel

Cerita dari PAUD Santo Gabriel

Pagi itu, jam menunjukkan pukul 08.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Tim WLF bergegas untuk menuju salah satu PAUD mitra dampingan program WLF di Kecamatan Pogotena, Kabupaten Sumba Barat Daya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit dari kota Tambolaka, tim WLF akhirnya sampai di PAUD Santo Gabriel. Bangunan sekolah ini berukuran mungil, beratapkan seng, beralaskan karpet plastik, dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. PAUD ini terletak di tengah ladang jagung. Di halamannya terpancang tiang bendera merah putih yang terbuat dari batang bambu. Ternyata, para murid dan tutor PAUD sudah siap sejak pagi untuk menyambut kami. Salam yang hangat dan senyum yang lebar terpancar dengan ceria, mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam sekolah yang dipenuhi ornamen dan alat peraga edukasi sederhana tapi penuh warna ini. 

Terdapat kurang lebih 30 orang murid yang terdiri dari kelas A dan B. Sebelum pelajaran dimulai, para murid tidak lupa berdoa dan duduk dengan rapi. Tidak ada sekat antara kelas A dan B. Tidak ada bangku dan meja layaknya sekolah PAUD di perkotaan. Salah satu tutor PAUD yang menarik perhatian kami adalah Mama Yuliana Ladi. Mama Yuliana terlihat sangat bersemangat dalam mengajarkan murid-muridnya bernyanyi, menggambar, dan menulis. Semua muridnya juga terlihat sangat antusias dan mendengarkan setiap arahan dengan seksama. Proses belajar mengajar di PAUD ini memang sangat menyenangkan. Walaupun menggunakan materi edukasi yang minim, hal ini tidak melunturkan semangat para tutor PAUD dan anak-anak.

Tim WLF kemudian berkesempatan untuk berdiskusi dengan Mama Yuliana dan kepala kecamatan Pogotena. Beliau pun bercerita tentang perjuangannya dan tutor PAUD lainnya dalam proses belajar mengajar dan mempertahankan PAUD Santo Gabriel. Beliau juga aktif mengikuti berbagai kegiatan penyuluhan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah, termasuk forum diskusi tentang pendidikan dan keterlibatan perempuan di tingkat kecamatan maupun kabupaten. 

Terdapat berbagai tantangan yang dihadapi para tutor PAUD Santo Gabriel. PAUD mungil ini didirikan di atas tanah milik warga dan masih belum memiliki toilet. Jumlah tutor juga masih sangat terbatas yaitu hanya 3 orang. Setiap pagi, Mama Yuliana harus berjalan kaki cukup jauh dari rumahnya dan menjemput muridnya satu persatu dan Bersama-sama ke sekolah. Begitupun di siang hari, tak jarang, Mama Yuliana juga harus mengantar anak-anak muridnya pulang ke rumah mereka yang letaknya cukup jauh dari PAUD. Kondisi cuaca yang panas di Sumba Barat Daya sepertinya tidak menyurutkan semangat para murid untuk sekolah. Walaupun dihadapkan dengan tantangan tersebut, Mama Yuliana tidak pantang menyerah untuk terus memberikan yang terbaik bagi PAUD tempat ia mengajar. Bahkan beliau dengan sigap menjelaskan tentang kurikulum PAUD yang mereka gunakan, bagaimana metode pengajaran bagi para murid, dan inovasi-inovasi apa saja yang telah mereka lakukan di tengah keterbatasan sumber daya. Mama Yuliana juga bercerita bahwa beliau menggunakan kesempatan pelatihan-pelatihan bagi tutor PAUD tidak hanya untuk menambah pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga untuk mengumpulkan kertas-kertas bekas yang nantinya bisa digunakan sebagai bahan pembuatan alat peraga edukasi bagi murid-muridnya. 

Cerita Mama Yuliana adalah salah satu dari sekian banyak perempuan di Sumba Barat Daya yang mengabdikan hidupnya sebagai tutor PAUD di tengah kondisi yang tidak ideal dan minimnya sumber daya yang mendukung proses belajar mengajar. PAUD Santo Gabriel merupakan salah satu PAUD yang menjadi mitra dampingan dalam program Revitalisasi PAUD HI milik WLF dan bekerjasama dengan Sumba Integrated Development. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PAUD HI melalui pendampingan dan monitoring terkait implementasi PAUD HI (baik di unit PAUD maupun di Posyandu), implementasi Kurikulum 2013, pendampingan dan monitoring tentang responsive parenting, pendampingan dan pemantauan alat pemantauan yang komprehensif, pertemuan rutin Gugus Tugas PAUD HI di tingkat kabupaten, serta advokasi dan jejaring tingkat kabupaten. Program ini dimulai sejak tahun 2019 dan akan berakhir pada bulan Juli 2022.