Cerita Dari Ana Leko

Sebagai bendahara kelompok Ana Leko di Desa Pero, Cornelia Arista Bouka, yang lebih akrab disapa Rista, merupakan petani binaan YBTS. Wanita yang saat ini berusia 30 tahun tidak pernah berhenti menggerakan anggota kelompok taninya untuk menanam sayuran karena telah merasakan manfaatnya dari hasil pembelajaran pada demplot tomat yang dijalani dalam kelompok.

Nama Ana Leko memiliki arti mengajak teman-teman untuk bekerja bersama dalam berkelompok, nama ini telah terbukti bukan hanya sekedar nama. Dengan motivasi yang terus diberikan oleh Ibu Rista, terdapat 20 orang anggota yang tekun menanam sayuran untuk menambah penghasilan keluarga. Ia berkisah, pada awalnya mereka melakukan penanaman jagung dan cabai rawit. Namun, karena kurangnya pengetahuan dan ketekunan, kegagalan sering mereka alami sehingga pendapatan mereka sangat minim.

Sejak PPL setempat bersama YBTS memberikan pelatihan, pendampingan, dan praktek secara langsung di kebun contoh, anggota kelompok ini berhasil mendapat penghasilan sekitar Rp 10.800.000 dari 1.200 tanaman tomat. Mereka pun kian bersemangat ketika pedagang langsung membeli hasil panen sayuran di kebun dan puas akan kualitas tomat yang mereka tanam.

Hal ini membangkitkan gairah anggota untuk serius menanam sayur.  Masing-masing anggota menanam di lahan sendiri, melakukan panen setiap bulan, dan menjual sayuran di dalam desa maupun desa sekitar. Banyak juga pedagang yang datang mengambil sayuran di kebun untuk dijual di pasar kabupaten. Ibu Rista juga menggugah para pemuda yaitu anak-anak dari anggota kelompok tamatan SLTA dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk menekuni sayuran sebagai mata pencaharian. Ia menyediakan benih, pupuk, dan pestisida bagi sekitar 10 orang pemuda yang saat ini telah membuka lahan seluas 500 m2 untuk melakukan penanaman cabai rawit, yang hasilnya kemudian akan menjadi pendapatan mereka.

Anggota kelompok juga mendapatkan motivasi sehingga mampu membeli benih untuk menanam secara berkelanjutan. Ibu Rista bersama anggota kelompoknya bertekad untuk tidak bergantung pada YBTS karena terbukti dengan penghasilan dari menanam sayuran, mereka mampu untuk mandiri dalam mengembangan usaha sayuran mereka menjadi lebih besar. Bersama suami yang juga merupakan ketua kelompok Ana Leko, Ibu Rista memiliki cita-cita untuk memiliki motor 3 roda seharga Rp 30 juta yang akan dipakai membantu penjualan sayuran dari kebun mereka sekaligus dari anggota kelompok.

Kebahagiaan lain juga dirasakan dengan adanya perubahan dalam konsumsi sayuran. Dibandingkan sebelumnya yang hanya menjadikan daun ubi dan daun pepaya sebagai lauk, saat ini telah tersedia beberapa jenis sayuran di kebun mereka seperti sawi, kangkong, tomat, wortel, dan kacang panjang yang menjadi tambahan konsumsi keluarga. “Kami akan tetap bersemangat menanam karena buku kami adalah kebun dan pena kami adalah cangkul,” ucap Ibu Rista menjelaskan mottonya.  Kelompok tani Ana Leko tetap berkomitmen untuk menggerakan anggota kelompok agar mampu memperbaiki ekonomi keluarga lewat menanam sayuran.

Cerita ini merupakan bagian dari program Program Peningkatan Mata Pencaharian Pertanian (PERMATA)  yang diimplementasikan oleh Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) dan didukung oleh William & Lily Foundation (WLF). Program ini berlangsung selama 2 tahun terhitung sejak 1 Oktober 2021 hingga 30 September 2023.

Penulis Cerita : Junike Medah – YBTS