PENGUATAN EKOSISTEM DIKLAT TEKNIS PARIWISATA DI SUMBA BARAT DAYA

Nama Program:Penguatan Ekosistem Pendidikan dan Latihan Kejuruan Teknis Pariwisata (TVET) di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur
Mitra Pelaksana:DESMA Center for the Development of Sustainable Tourism
Sektor:Pendidikan
Lokasi:Southwest Sumba
Durasi Program:24 bulan
Periode Program: Augustus 2020 – Juli 2022

 

A. Hasil yang ditargetkan

Untuk mencapai tujuan utama penguatan ekosistem TVET pariwisata di Sumba Barat Daya, kerjasama ini mendukung berbagai pemangku kepentingan dalam meningkatkan TVET pariwisata di kabupaten tersebut. Ini bertujuan untuk mengupayakan dampak positif pada TVET pariwisata dan mempromosikan pendidikan yang lebih kuat sebagai dasar pengembangan dan pengelolaan pariwisata dengan menargetkan hasil spesifik seperti di bawah ini:

  1. Penguatan advokasi kepada pemerintah daerah untuk memasukkan TVET pariwisata sebagai bagian dari program pembangunan ekonomi daerah
  2. Peningkatan kapasitas sekolah menengah kejuruan pariwisata (umumnya disebut Sekolah Menengah Kejuruan/SMK) dan untuk mempersiapkan sekolah menjadi lembaga sertifikasi profesi Kelas I (umumnya disebut Lembaga Sertifikasi Profesional/LSP Kelas I)
  3. Peningkatan keterkaitan bisnis SMK pariwisata dengan industri

B. Hasil

Hasil 1: Mengembangkan kesepakatan dengan pemangku kepentingan untuk meningkatkan pendidikan pariwisata dengan memasukkan TVET pariwisata dalam agenda pembangunan ekonomi
Hasil 2: Mengembangkan kapasitas SMK pariwisata untuk memajukan lulusan dan kapasitasnya
Hasil 3: Penguatan jaringan dan penerimaan lulusan di industri

C. Latar Belakang & Konteks: 

  1. Pada tahun 2016, Pemerintah Indonesia meluncurkan program revitalisasi TVET sesuai dengan Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2016 tentang Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Sumber Daya Manusia Indonesia dengan target peningkatan daya kerja dan daya saing tenaga kerja Indonesia baik secara nasional dan internasional..
  2. Berdasarkan kajian cepat yang dilakukan DESMA Center pada tahun 2019, terdapat berbagai tantangan dalam menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas untuk pariwisata melalui sistem pendidikan vokasi saat ini di Indonesia, khususnya di kawasan timur. Tantangannya mungkin termasuk ketidaksesuaian antara keterampilan yang diajarkan untuk kejuruan pariwisata di SMK dan industri, fasilitas dan materi pembelajaran yang tidak memadai bagi siswa untuk menerapkan dan mempraktikkan konsep, dan guru yang tidak produktif yang tidak memiliki latar belakang akademis atau pengalaman industri yang sesuai..
  3. Ada tujuh SMK di Sumba Barat Daya yang menyediakan materi terkait pariwisata dan peningkatan kapasitas sebagai fokus utama. SMK tersebut adalah SMK Panenggo Ede, SMKN 1 Kodi Utara, SMK Mata Loko, SMK Bakti Luhur, SMK Negeri 2 Kota Tambolaka, SMKS Pancasila Tambolaka dan SMK Efata. Belum ada SMK yang terakreditasi. Satu-satunya SMK pariwisata di Sumba Barat Daya yang menyediakan laboratorium praktik pariwisata adalah SMKS Pancasila Tambolaka dan SMKN 1 Kodi Utara. SMKN 1 Kodi Utara merupakan satu-satunya SMK yang menyediakan perpustakaan di antara yang lainnya. SMKN 1 Kodi Utara dan SMK Negeri 2 Kota Tambolaka merupakan SMK negeri sedangkan SMK lainnya dimiliki swasta. Tiga SMK yang masuk program revitalisasi adalah SMKN 1 Kodi Utara, SMK Negeri 2 Kota Tambolaka dan SMKS Pancasila Tambolaka.
  4. Minimnya keterlibatan pemerintah daerah dalam pengembangan sekolah vokasi di daerahnya menyebabkan rendahnya penyerapan lulusan vokasi untuk diserap oleh industri lokal. Alih-alih menawarkan program studi yang sesuai dengan potensi lokal, banyak sekolah kejuruan menawarkan program usang atau program serupa dari satu ke yang lain tanpa melakukan survei awal lanskap persaingan. Padahal, jika sekolah kejuruan menawarkan program-program yang selaras dengan potensi lokal, maka potensi penyerapan tenaga kerja lulusannya dapat ditingkatkan dan ekonomi lokal dapat ditingkatkan. Selain itu, pemerintah daerah tidak benar-benar mempertimbangkan merancang program TVET sebagai tanggung jawab yang diamanatkan.
  5. Tujuan utama dari program TVET pariwisata adalah untuk menyediakan industri dengan lulusan yang berkualitas dan cukup terlatih sesuai dengan standar industri. Namun, penilaian Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Sumba Barat Daya dilakukan oleh William & Lily Foundation dan Institut Indonesia untuk Analisis Ekonomi, Politik, dan Kebijakan Publik (LANSKAP) pada tahun 2019 mengidentifikasi bahwa SMK di Sumba Barat Daya telah menghasilkan kelebihan pasokan lulusan yang tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai untuk segera dipekerjakan oleh industri, sehingga menyebabkan rendahnya permintaan lulusan SMK oleh industri. industri.
  6. SMK Pariwisata harus menyediakan kurikulum berkualitas tinggi yang memenuhi kebutuhan industri pariwisata dan memiliki pengajar berkualitas dengan pengalaman industri yang benar-benar dapat mentransfer ilmunya kepada siswa. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan peningkatan kapasitas yang komprehensif kepada para guru. SMK yang terakreditasi sangat dibutuhkan sebagai salah satu syarat dasar untuk distandarkan dengan LSP grade I. Namun, SMK pariwisata yang terakreditasi dan output penting lainnya untuk memiliki standar LSP grade I masih kurang, karena fasilitas laboratorium untuk praktik in-house training kurang lengkap. Selain itu, ada juga kekurangan kuantitas dan kompetensi guru.
  7. TVET dapat secara efektif mengurangi pengangguran kaum muda, jika mereka dapat membekali lulusan dengan keterampilan yang tepat yang sesuai dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu, sistem TVET berdasarkan permintaan, yang menjawab kebutuhan tenaga kerja dan sektor swasta, diperlukan. Keterkaitan yang kuat dengan industri harus dikembangkan melalui kolaborasi dan kemitraan dengan pemangku kepentingan terkait industri pariwisata, termasuk pelaku bisnis dan industri.
  8. Berdasarkan Laporan penilaian dalam rangka Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Sumba Barat Daya yang dilakukan oleh William & Lily Foundation dan LANSKAP (Lembaga Pengkajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik), SMK harus dapat bekerjasama dengan dunia usaha dan pelaku industri, sehingga anggaran akan dibebankan kepada pemerintah pusat.

E. Deskripsi Singkat:

TVET menekankan pendidikan, pelatihan, dan pengembangan keterampilan yang berkaitan dengan berbagai bidang pekerjaan, produksi, layanan, dan mata pencaharian (UNESCO, 2015). Upaya ini bertujuan untuk memastikan angkatan kerja berikutnya memiliki keterampilan yang sesuai dengan industri (Indonesia Development Forum, 2019). Di sektor pariwisata, khususnya, TVET bertujuan untuk memperkuat keberlanjutan pembangunan pariwisata di tingkat nasional dan sistemik dengan membangun kapasitas departemen pemerintah terkait, penyedia pelatihan, dan pemangku kepentingan sektor swasta melalui latihan peningkatan kapasitas dan layanan pendampingan (Australian Aid, 2017).

Untuk mencapai tujuan program “Penguatan Ekosistem TVET Pariwisata di Sumba Barat Daya”, DESMA Center dan William & Lily Foundation bekerja sama dalam berbagai kegiatan berdasarkan output masing-masing sebagai berikut:

Hasil 1

Untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas pemerintah daerah untuk berkontribusi terhadap keberhasilan program revitalisasi vokasi nasional, DESMA Center akan mengadvokasi masuknya vokasi dalam rencana pembangunan daerah melalui:

  • Berbagi pelajaran dari daerah dan negara lain di mana dukungan pemerintah terhadap sekolah vokasi terbukti membawa manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat setempat
  • Memberikan bantuan teknis pengembangan program untuk sekolah kejuruan selama rencana pembangunan daerah
  • Memfasilitasi pemerintah daerah untuk melakukan diskusi rutin tentang kebijakan dan program TVET dengan sekolah dan industri

Hasil 2

Untuk meningkatkan kapasitas SMK pariwisata agar mampu mempersiapkan standar LSP grade I, DESMA Center akan menggandeng SMK pariwisata melalui:

  • Melakukan pelatihan manajemen dan konsultasi kepada pengurus SMK pariwisata
  • Melakukan program sister school antar SMK pariwisata di Sumba Barat Daya dengan SMK pariwisata Bali
  • Meningkatkan pengetahuan praktis guru di bidang pariwisata dan perhotelan
  • Melaksanakan program magang di industri pariwisata bagi guru SMK pariwisata di Sumba Barat Daya
  • Meningkatkan fasilitas praktikum di SMK pariwisata

Hasil 3

Untuk meningkatkan keterkaitan bisnis sekolah kejuruan dengan industri, DESMA Center melakukan kegiatan sebagai berikut:

  • Pasar tenaga kerja menuntut penilaian cepat yang memberikan informasi pasar tenaga kerja terkini
  • Peningkatan kapasitas penjangkauan manajemen sekolah
  • Fasilitasi dialog reguler antara SMK dan pelaku industri pariwisata
  • Pameran dan lokakarya ketenagakerjaan di mana penyelenggara TVET dapat memperkenalkan program pelatihan dan mahasiswa pascasarjana dapat berinteraksi dengan pelaku bisnis dan industri