19th Ave New York, NY 95822, USA

Pengembangan Ekosistem SMK di Sumba Barat Daya untuk Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Pengembangan Ekosistem SMK di Sumba Barat Daya untuk Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Pendidikan adalah salah satu ujung tombak penentu keberhasilan pembangunan di setiap sektor, termasuk industri pariwisata. Berangkat dari perspektif tersebut, William & Lily Foundation (WLF) berkolaborasi dengan DESMA Center untuk mendukung pemerintah dan masyarakat di Sumba Barat Daya (SBD) dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan siap berkontribusi terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Kolaborasi dilakukan melalui program Penguatan Ekosistem Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pariwisata di SBD yang diimplementasi di dua sekolah dampingan yaitu SMKN 2 Kota Tambolaka dan SMKS Pancasila. Tidak terbatas pada kedua SMK, DESMA Center juga membuka peluang bagi SMK pariwisata lain untuk terlibat dalam kegiatan program dengan sistem pembiayaan mandiri, sebagai penerima manfaat tidak langsung (indirect beneficiaries).

Karena program hanya berjalan selama dua tahun, dari bulan Agustus 2020 hingga bulan Juli 2022, pemangku kepentingan, baik pemerintahan maupun industri pariwisata diikutsertakan untuk turut membawa dampak positif bagi pendidikan kejuruan pariwisata. Para pemangku kepentingan diajak memahami bahwa pendidikan yang kuat adalah dasar dari pengembangan dan manajemen pariwisata berkelanjutan.

Program ini berangkat dari kondisi yang dianggap belum ideal bagi calon lulusan SMK pariwisata untuk dapat menyesuaikan kebutuhan industri. Kondisi tersebut di antaranya adalah adanya ketidakcocokan antara kemampuan yang diajarkan di SMK pariwisata dengan kebutuhan kriteria dan kualifikasi industri, keterbatasan fasilitas dan materi pembelajaran di sekolah untuk praktik atau latihan, dan kualifikasi tenaga pengajar yang belum sesuai standar dan syarat akademik. Di SBD sendiri, contohnya, di antara tujuh SMK pariwisata, hanya ada dua sekolah yang sudah dilengkapi dengan laboratorium dan satu sekolah yang memiliki perpustakaan.

Menanggapi keterbatasan ini, kolaborasi WLF dan DESMA Center berfokus pada penguatan kualitas SMK pariwisata sebagai ekosistem pengembang pariwisata berkelanjutan. Penguatan ekosistem ini dilakukan melalui advokasi terhadap pemerintah daerah untuk menyertakan SMK pariwisata ke dalam program pembangunan ekonomi daerah. Upaya ini disempurnakan dengan menyasar pada peningkatan kapasitas dan mempersiapkan SMK pariwisata untuk mendapatkan sertifikasi grade I dari Lembaga Sertifikasi Profesional (LSP).

Menurut Boyke Hutapea selaku Project Manager Sumba dari DESMA Center, keterlibatan pemerintah dalam peningkatan kapasitas SMK masih perlu ditingkatkan. Maka, program ini mendorong pemerintah untuk mengambil bagian dalam forum komunikasi pengembangan pariwisata tingkat kabupaten sebagai pengurus, bersama dengan para pemangku kepentingan lain mulai dari pelaku pariwisata dan organisasi yang berfokus pada wisata berkelanjutan, hingga pihak SMK sebagai ekosistem utama pencetus SDM. Secara resmi, para pengurus forum dilantik pada bulan April 2021.

Selain meningkatkan kesadaran dan pemahaman berbagai pihak terkait akan pentingnya pendidikan kejuruan bagi kemajuan industri pariwisata melalui rangkaian pelatihan, DESMA Center memastikan keberlanjutan program dengan mengadvokasi pemerintah untuk mengalokasikan kegiatan forum. Diupayakan setidaknya pemerintah mengintegrasikan empat kali kegiatan dalam setahun, atau sekali per tiga bulan, ke dalam perencanaan dan anggaran pembangunan daerah. Tak kalah penting, pihak sekolah mendapat pendampingan untuk menggali kebutuhan dan lebih proaktif dalam menyampaikan aspirasi dan inisiatif kepada pemerintah melalui forum sebagai wadah advokasi mandiri bagi masyarakat.

Tidak terbatas bagi kedua sekolah dampingan, program ini terbuka bagi SMK lain yang ingin memajukan kualitas institusi, meningkatkan kapasitas guru, dan mempersiapkan calon lulusan kejuruan pariwisata.

“Kami juga membuka kesempatan bagi SMK lain dengan turut mengajak mereka dalam kegiatan pelatihan, sebagai jembatan kepada pemangku kepentingan lain. SMK Bakti Luhur misalnya, walaupun bukan sekolah dampingan, para gurunya ikut serta dalam lokakarya manajemen pariwisata,” jelas Boyke.

DESMA Center memfasilitasi sekolah dampingan dan SMK lain dengan kegiatan Sister Schools sebagai wadah belajar dan berbagi pengalaman dengan sekolah model, yaitu SMKN 1 Kupang dan SMKN 3 Denpasar. Kedua sekolah model ini sudah mendapatkan sertifikasi LSP P1 dan mengaplikasikan pembelajaran pariwisata berkualitas. Sebelum kunjungan atau visitasi ke sekolah model, pelatihan terkait manajemen pariwisata, dan  pelatihan asesor kompetensi untuk guru produktif sebagai salah satu persyaratan menuju LSP P1. SMK Bakti Luhur turut serta dalam lokakarya ini.

“Kami mengundang SMK lain dalam kegiatan Sister School sebagai kesempatan mereka mengembangkan kapasitas dan kompetensi guru. Begitu pula untuk visitasi ke sekolah model, dengan pembiayaan dari sekolah masing-masing,” tambah Boyke.

Tantangan lain adalah terbatasnya tenaga guru berbasis kejuruan pariwisata, sehingga seringkali tenaga pengajar di SMK pariwisata berlatar belakang kurang sesuai, salah satunya bahasa asing. Untuk menangani kondisi ini, WLF dan DESMA Center mengupayakan perencanaan kegiatan guru magang sebagai media peningkatan kapasitas tenaga pengajar.